Halo Robotics Perkenalkan Unitree, DJI Dock 3 dan Fifish X1, Solusi Robotika untuk Industri dan Mitigasi Bencana

0
IMG-20260911-WA0010

KOMPASSINDO.COM, Jakarta – PT Halo Indah Permai melalui brand Halo Robotics memperkenalkan tiga teknologi robotika dan drone terbaru dalam rangkaian keikutsertaannya pada Adexco, The 5th Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference 2026 serta Mining Indonesia Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 9–12 September 2026.

Teknologi yang menjadi sorotan meliputi robot Unitree, sistem drone otomatis DJI Dock 3 dan underwater ROV Fifish X1. Ketiga perangkat tersebut dikembangkan untuk kebutuhan yang berbeda, mulai dari pekerjaan di darat, pemantauan dari udara hingga inspeksi dan operasi di bawah permukaan air.

Managing Director PT Halo Indah Permai, Johannes Soekidi, mengatakan kehadiran Halo Robotics di dua pameran tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan solusi teknologi yang dapat mendukung kebutuhan industri sekaligus penanganan bencana di Indonesia.

“Jadi kehadiran kami kali ini pastinya untuk membawakan beberapa teknologi terbaru untuk industri Indonesia dan juga penanggulangan bencana di Indonesia,” ujar Johannes saat ditemui awak media di booth Halo Robotics, Rabu (9/9/2026).

Salah satu teknologi yang diperagakan adalah robot Unitree. Produk ini terdiri dari robot berkaki empat atau quadruped serta robot humanoid yang memiliki potensi pemanfaatan pada berbagai sektor.

Robot quadruped Unitree dapat digunakan untuk pendidikan, penelitian, survei, inspeksi, keamanan hingga kebutuhan hiburan. Di lingkungan industri, robot tersebut dapat dilengkapi sensor tertentu sehingga mampu menjalankan tugas pengamatan dan pengumpulan data pada lokasi yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Beragam sensor dapat dipasang sesuai kebutuhan, seperti sensor oksigen, pendeteksi gas beracun, sensor metana, LiDAR, kamera beresolusi tinggi serta kamera thermal. Kombinasi tersebut memungkinkan robot mendukung pekerjaan inspeksi di sektor pertambangan, pembangkit listrik, kelistrikan, serta industri minyak dan gas.

“Kalau kita lihat di sini ada robot Unitree, ada tipe H2 dan juga G1 yang memang kita bawa untuk menunjukkan bahwa sekarang canggihnya teknologi robotika,” kata Johannes.

Menurut Johannes, penggunaan robot untuk pekerjaan tertentu juga dapat menjadi bagian dari strategi peningkatan keselamatan kerja. Dengan teknologi tersebut, proses pemeriksaan dapat dilakukan terlebih dahulu menggunakan robot sebelum personel memasuki area yang berpotensi membahayakan.

Pengoperasian robot juga dapat dikembangkan menuju sistem yang lebih otomatis. Robot dapat diprogram mengikuti jalur tertentu dan melakukan inspeksi secara berkala sehingga kondisi suatu aset dapat dipantau dari waktu ke waktu.

Konsep tersebut dapat diperluas dengan mengintegrasikan robot darat dan drone udara. Dengan kombinasi keduanya, pengguna dapat memperoleh data dari area yang lebih luas sekaligus mengurangi kebutuhan personel untuk melakukan pemeriksaan secara langsung di lokasi berisiko.

Selain robot quadruped, Halo Robotics turut memperlihatkan robot humanoid Unitree. Teknologi humanoid tersebut memiliki ruang pemanfaatan yang luas, terutama untuk pendidikan, penelitian, pengembangan robotika, interaksi manusia dengan mesin, demonstrasi teknologi hingga entertainment.

Kehadiran robot humanoid juga memberikan peluang bagi institusi pendidikan dan pusat riset untuk mempelajari perkembangan teknologi robotika serta mengembangkan berbagai aplikasi baru sesuai kebutuhan.

Teknologi berikutnya adalah DJI Dock 3, sistem yang memungkinkan pengoperasian drone secara otomatis dan terjadwal. Solusi ini ditujukan bagi kebutuhan monitoring, inspeksi serta pengumpulan data secara rutin.

Melalui DJI Dock 3, drone dapat menjalankan misi yang telah ditentukan tanpa harus selalu dikendalikan secara manual oleh operator di lapangan. Sistem seperti ini dapat membantu perusahaan melakukan pemantauan aset secara lebih konsisten.

Dalam penerapannya, DJI Dock 3 juga berpotensi dipadukan dengan platform manajemen drone dan teknologi artificial intelligence (AI). Data yang diperoleh dari misi penerbangan kemudian dapat dianalisis untuk memberikan informasi yang mendukung proses pengambilan keputusan.

Solusi drone otomatis tersebut dinilai relevan untuk industri dengan wilayah operasional yang luas, termasuk pertambangan, energi, minyak dan gas serta pengelolaan berbagai infrastruktur.

Sementara itu, kebutuhan operasi di bawah air diperkuat dengan kehadiran Fifish X1. Underwater ROV drone ini dirancang untuk membantu berbagai pekerjaan seperti inspeksi aset, survei, pemantauan kondisi bawah air hingga mendukung kegiatan pencarian dan pertolongan.

Fifish X1 memiliki kemampuan operasi hingga kedalaman 350 meter atau 350M Depth serta mendukung kapasitas payload hingga 15 kilogram.

Kemampuan tersebut memungkinkan perangkat digunakan untuk menjangkau area bawah air yang sulit diperiksa secara langsung oleh manusia. Teknologi ROV juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi paparan risiko terhadap personel dalam pekerjaan tertentu.

“Ini bisa digunakan untuk keperluan inspeksi aset dan juga pencarian dan pertolongan agar lebih mudah karena beratnya sekitar 30 kilogram dan dapat memudahkan operasi di perairan,” jelas Johannes.

Bagi sektor industri, teknologi ROV bawah air dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemeriksaan berbagai aset yang berada di lingkungan perairan. Pemanfaatannya dapat mencakup kebutuhan pertambangan, minyak dan gas serta infrastruktur lainnya.

Fifish X1 juga dapat dipadukan dengan perangkat pendukung dan sensor sesuai kebutuhan operasional. Dengan demikian, fungsi underwater ROV tidak hanya sebatas mengambil gambar, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari sistem pengumpulan informasi dan inspeksi bawah air.

Pada sektor kebencanaan, kemampuan robot bawah air juga memiliki nilai strategis. Teknologi ini dapat membantu proses pencarian di wilayah perairan sekaligus memberikan informasi kondisi bawah permukaan tanpa harus langsung menempatkan personel di area yang memiliki risiko.

Johannes mengatakan integrasi antara robot dan drone menjadi salah satu arah pengembangan teknologi yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi sektor industri maupun penanganan bencana.

“Ini nanti akan menjadi satu kesatuan solusi yang dapat kita tawarkan untuk berbagai industri di pertambangan dan juga di penanggulangan bencana Indonesia,” ujarnya.

Halo Robotics tidak hanya menghadirkan teknologi drone udara, tetapi juga membangun portofolio yang mencakup robotika darat, underwater ROV, sensor, perangkat lunak serta sistem otomatisasi.

Melalui Unitree, DJI Dock 3 dan Fifish X1, perusahaan memperlihatkan pendekatan teknologi yang mencakup tiga lingkungan operasional sekaligus, yakni darat, udara dan bawah air.

Ketiga teknologi tersebut dapat diarahkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pendidikan dan riset, survei serta inspeksi aset hingga monitoring, keamanan, keselamatan kerja dan dukungan terhadap operasi tanggap darurat.

“Kami membawa solusi yang lebih lengkap di hadapan para user dan juga pelaku usaha di pertambangan serta rekan-rekan yang bekerja dalam penanggulangan bencana, dengan harapan kami bisa memberikan peningkatan efisiensi dan juga keamanan kerja bagi rekan-rekan di lapangan,” tutur Johannes.

Partisipasi Halo Robotics dalam Adexco 2026 dan Mining Indonesia Expo 2026 menunjukkan semakin berkembangnya pemanfaatan robotika dan drone dalam aktivitas industri di Indonesia. Teknologi tersebut kini tidak hanya berfungsi sebagai perangkat dokumentasi, tetapi mulai menjadi bagian dari sistem inspeksi, monitoring, otomatisasi dan peningkatan keselamatan kerja.

Dengan menggabungkan drone udara, robot quadruped, robot humanoid, underwater ROV, sensor, AI serta sistem otomatisasi, Halo Robotics berupaya menghadirkan solusi teknologi yang mampu membantu perusahaan menjalankan pekerjaan secara lebih efisien sekaligus mengurangi risiko bagi personel di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *