PT Bintan Cellular Indonesia Bawa Kapasitas Solar Cell 7,5 GW ke EBTKE Connex 2026, Bidik Pasar Indonesia
KOMPASSINDO.COM, JAKARTA, 2 September 2026 — PT Bintan Cellular Indonesia (BCI) memperkuat kiprahnya di industri energi terbarukan Indonesia dengan menghadirkan kemampuan manufaktur solar cell berkapasitas hingga 7,5 GW per tahun. Perusahaan yang berbasis di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, tersebut turut memperkenalkan kapabilitas dan produk sel suryanya dalam ajang EBTKE Connex 2026 di Exhibition JIExpo Kemayoran, Jakarta, 2–4 September 2026.
Public Relationship and Marketing Manager PT Bintan Cellular Indonesia, Andy Herlambang, mengatakan kehadiran BCI di EBTKE Connex 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih luas kemampuan perusahaan sebagai produsen solar cell di Indonesia.
“Jadi kami adalah Bintan Cellular Indonesia, perusahaan di Indonesia yang memproduksi solar cell. Solar cell ini nantinya digunakan untuk produksi solar module,” ujar Andy saat ditemui awak media pada hari pertama EBTKE Connex 2026, Rabu (2/9/2026).
Andy menjelaskan, BCI memiliki kapasitas produksi mencapai 7,5 GW per tahun. Produk yang dihasilkan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar solar module, baik untuk pasar internasional maupun pasar Indonesia.
Saat ini, menurut Andy, sekitar 80 persen produksi BCI masih terserap pasar India, sedangkan sekitar 20 persen lainnya telah tersebar ke berbagai pasar global.
“Sekitar 80 persen saat ini masih didominasi India, kemudian 20 persen tersebar secara global,” katanya.
Bidik Pasar Solar Cell Indonesia
Andy mengungkapkan, BCI kini mulai meningkatkan fokus terhadap pasar Indonesia. Perusahaan berharap semakin banyak produk solar cell yang dapat diserap untuk mendukung pengembangan industri panel surya nasional.
“Di tahun ini kami berencana menawarkan dan masuk ke Indonesia. Beberapa produk juga sudah kami kirim ke Indonesia. Kami berharap mendapatkan support untuk meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri,” jelasnya.
Menurut Andy, keberadaan industri solar cell di dalam negeri memiliki peran penting dalam memperkuat rantai pasok industri energi surya nasional.
Dengan tersedianya sel surya yang diproduksi di Indonesia, industri solar module dalam negeri memiliki peluang untuk meningkatkan penggunaan komponen lokal sekaligus menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
BCI sendiri merupakan perusahaan yang didirikan pada 2024 dan beroperasi di KEK Galang Batang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Data legal entity menunjukkan BCI berstatus perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), dengan alamat operasional di kawasan KEK Galang Batang.
Kehadiran BCI di Bintan juga menjadi bagian dari pengembangan basis manufaktur photovoltaic Yingfa di Indonesia. Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) mencatat BCI sebagai produsen solar cell yang beroperasi di KEK Galang Batang, dengan rencana produksi sel surya silikon kristal berkapasitas tahunan mencapai 7 GW.
Teknologi Solar Cell Generasi Baru
Dari sisi teknologi, BCI mengembangkan berbagai jenis sel surya, termasuk teknologi N-type TOPCon dan P-type PERC.
Dalam informasi perusahaan yang dipublikasikan sebelumnya, BCI menyebut kemampuan produksi dan R&D mencakup rangkaian solar cell ukuran 210 mm dan 183 mm, serta terus mengembangkan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pasar photovoltaic yang beragam.
BCI juga sebelumnya memperkenalkan teknologi TOPCon dalam berbagai konfigurasi, termasuk produk dengan teknologi bifacial yang memungkinkan pembangkitan energi dari sisi depan maupun belakang modul.
Andy mengatakan teknologi yang digunakan BCI berasal dari Tiongkok melalui ekosistem teknologi yang dimiliki grup perusahaan.
“Untuk teknologi sementara kami menggunakan teknologi dari Tiongkok,” ungkapnya.
Meski demikian, Andy menekankan bahwa aktivitas produksi yang dilakukan BCI berada di Indonesia dan diarahkan untuk semakin memperkuat industri energi surya nasional.
Dari Bintan untuk Pasar Global
Selain membidik pasar Indonesia, BCI juga telah menjalankan aktivitas ekspor. Pemerintah melalui Bea Cukai Tanjungpinang sebelumnya mencatat kegiatan pelepasan ekspor solar cell BCI dari kawasan KEK Galang Batang. Pemerintah menilai investasi tersebut memberikan manfaat melalui penciptaan lapangan kerja, aktivitas ekspor, serta multiplier effect bagi kawasan sekitar.
Kapasitas manufaktur BCI juga terus menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok photovoltaic global.
Dalam partisipasinya pada Solartech Indonesia 2025, BCI menyebut kapasitas produksinya telah melampaui 7 GW per tahun dan menargetkan pengembangan teknologi serta produksi untuk pasar Asia Tenggara dan global.
BCI juga telah memperkenalkan solusi energi terkait, termasuk sistem penyimpanan energi untuk kebutuhan rumah tangga serta sistem penyimpanan skala komersial dan industri.
Perkuat Ekosistem Energi Terbarukan Indonesia
Andy menilai pengembangan manufaktur solar cell di Indonesia menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap energi bersih.
Menurutnya, keberadaan produsen solar cell di dalam negeri bukan hanya berbicara mengenai kapasitas produksi, tetapi juga mengenai bagaimana Indonesia dapat membangun ekosistem industri energi surya yang lebih lengkap.
BCI ingin menjadi salah satu bagian dari proses tersebut dengan memanfaatkan kemampuan manufaktur, teknologi, serta jaringan pasar yang telah dibangun.
Kehadiran di EBTKE Connex 2026 pun menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk bertemu dengan pelaku industri energi, pengembang proyek, produsen solar module, serta pemangku kepentingan yang membutuhkan pasokan solar cell.
Andy berharap dukungan terhadap industri energi terbarukan dan manufaktur dalam negeri dapat terus ditingkatkan agar kapasitas produksi yang telah tersedia dapat semakin banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan nasional.
“Dengan adanya sel ini, kami berharap tingkat kandungan dalam negeri bisa semakin meningkat,” ujarnya.
Melalui fasilitas manufaktur di Bintan dengan kapasitas hingga 7,5 GW per tahun, BCI membawa ambisi untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri solar cell, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi produk energi surya buatan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan global.
BCI menegaskan arah tersebut melalui pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas produksi, perluasan pasar, dan penguatan kontribusi terhadap transisi energi bersih di Indonesia.
