September 12, 2026

Akartha Energy Debut di EBTKE Connex 2026, Tawarkan PLTS Off-Grid sebagai Alternatif Genset

0
IMG-20260902-WA0034

KOMPASSINDO.COM, JAKARTA – PT Akartha Energi Baru melalui brand Akartha Energy resmi memperkenalkan kiprahnya secara langsung kepada pelaku industri energi dalam ajang EBTKE Connex 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 2–4 September 2026.

Untuk pertama kalinya, Akartha Energy hadir di event tersebut dengan menempati Booth G305, Hall Nusantara. Pada hari pertama, Rabu (2/9), Project Manager PT Akartha Energi Baru, Jason Harnowo, menjelaskan bahwa keikutsertaan ini menjadi momentum penting bagi perusahaan untuk memperkenalkan bisnis dan solusi energi terbarukan yang dikembangkan.

“Target utama kami adalah mengenalkan perusahaan kepada para partisipan EBTKE Connex. Karena ini merupakan keikutsertaan pertama kami, kami ingin memperkenalkan Akartha Energy dan solusi yang kami tawarkan,” ujar Jason saat ditemui di booth Akartha Energy, Rabu (2/9).

Menurut Jason, salah satu fokus utama Akartha Energy adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), khususnya sistem off-grid yang dapat menjadi alternatif bagi berbagai lokasi yang belum mendapatkan akses jaringan listrik PLN dan masih bergantung pada genset.

“Perusahaan kami bergerak di PLTS, terutama yang off-grid. Banyak site atau lokasi yang belum tersentuh PLN dan biasanya masih menggunakan genset. Kami mencoba mengalihkan penggunaan energi lama tersebut ke energi baru terbarukan,” jelasnya.

Solusi tersebut dinilai memiliki peluang besar karena kebutuhan listrik mandiri masih terdapat di berbagai lokasi operasional industri dan perkebunan yang jauh dari jaringan listrik. Penggunaan PLTS yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar diesel.

Akartha Energy sendiri memperkenalkan diri sebagai pengembang energi terbarukan di Indonesia yang mengembangkan solusi energi bersih, termasuk BESS dan pembangkit berbasis tenaga surya. Perusahaan menempatkan ketahanan energi, pemerataan akses energi dan keberlanjutan sebagai bagian dari visi pengembangan bisnisnya.

Jason mengatakan, salah satu persoalan yang sering menjadi pertimbangan calon pengguna energi terbarukan adalah besarnya investasi awal. Karena itu, Akartha Energy menawarkan pendekatan bisnis melalui skema sewa yang memungkinkan pelanggan mendapatkan manfaat PLTS tanpa harus menanggung investasi awal secara penuh.

“Salah satu kesulitan ketika ingin mengganti energi ke energi baru terbarukan adalah biaya awal. Karena itu kami menggunakan skema sewa per bulan sehingga lebih murah dan dapat mengurangi risiko pengeluaran biaya awal yang besar,” ungkap Jason.

Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat pemanfaatan energi terbarukan menjadi lebih mudah dijangkau oleh pelaku usaha, khususnya mereka yang selama ini masih mengandalkan genset untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Model tersebut juga mulai mendapatkan perhatian di sektor industri. Pada Maret 2026, PT Teladan Prima Agro tercatat menandatangani master agreement dengan PT Akartha Energi Baru untuk penyewaan PLTS dengan nilai transaksi sekitar Rp750 miliar hingga Rp1,25 triliun, yang mencakup instalasi, operasi dan pemeliharaan PLTS di area anak usaha perkebunan. ([BCA Sekuritas][2])

Selain PLTS, pengembangan Battery Energy Storage System atau BESS menjadi bagian penting dalam ekosistem solusi Akartha Energy. Integrasi panel surya dengan baterai memungkinkan energi yang dihasilkan dapat disimpan dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan.

Sejumlah proyek yang dikaitkan dengan Akartha Energy juga menunjukkan pengembangan sistem hybrid PLTS dan BESS dalam skala megawatt. Salah satunya tercatat memiliki konfigurasi PLTS 2,121 MWp dengan BESS 7,465 MWh, sementara proyek lainnya menggunakan PLTS 1,56 MWp dengan BESS 5,535 MWh. ([LinkedIn][3])

Jason juga melihat peluang semakin besarnya penggunaan komponen dan tenaga kerja lokal dalam pembangunan proyek energi terbarukan di Indonesia.

“Untuk saat ini beberapa aset tetap masih berasal dari luar negeri. Tetapi ke depannya kami melihat manufaktur di Indonesia akan semakin berkembang dan beberapa kebutuhan dapat diproduksi secara lokal,” katanya.

Menurut Jason, perkembangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan produksi panel atau perangkat energi, tetapi juga membuka peluang bagi tenaga kerja dan perusahaan lokal di bidang konstruksi sipil maupun pekerjaan pendukung lainnya.

Dengan kehadiran perdana di EBTKE Connex 2026, Akartha Energy tidak hanya ingin memperkenalkan produk dan teknologi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pelaku industri yang membutuhkan solusi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

“Melalui event ini kami ingin memperkenalkan pesan dan kapabilitas Akartha Energy kepada lebih banyak partisipan sekaligus melihat peluang kolaborasi ke depan,” tutup Jason.

Kehadiran Akartha Energy di EBTKE Connex 2026 menjadi salah satu langkah perusahaan untuk memperluas eksposur di industri energi terbarukan Indonesia, khususnya dalam pengembangan PLTS off-grid, sistem penyimpanan energi serta model pembiayaan yang dapat membantu pelanggan beralih dari energi berbasis genset menuju energi yang lebih bersih dan efisien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *