Majelis Arah Indonesia Soroti Pentingnya Arah Pembangunan Nasional, Pancasila Jadi Landasan
KOMPASSINDO.COM, Jakarta – Majelis Arah Indonesia (MAI) menegaskan pentingnya Indonesia memiliki arah pembangunan nasional yang jelas dan berkesinambungan. Gagasan tersebut mengemuka dalam Silaturahim Nasional dan Pleno I Presidium MAI yang digelar di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Forum tersebut mempertemukan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, mulai dari ulama, akademisi, ekonom hingga tokoh masyarakat. Mereka hadir untuk memperkuat silaturahmi sekaligus membahas berbagai persoalan strategis yang berkaitan dengan perjalanan bangsa.
Sejumlah tokoh yang hadir antara lain KH. Thoha Yusuf Zakariya, Lc., Dr. H. Das’ad Latif, Ph.D., Ust. H. Slamet Ma’arif, S.Ag., M.M., KH. Nonop Hanafi, M.Pd.I., KH. Fahmi Salim, Lc., M.A., Iwel Sastra, S.H., M.Si., dan Dr. Phil. H. Habibburrahman El Shirazy, Lc., M.A.
Dari sembilan anggota Presidium MAI, sebanyak tujuh anggota hadir dalam kegiatan tersebut. Sementara Prof. H. Abdul Somad, Ph.D. dan Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik, SP, MSc.Ec. berhalangan hadir.
Dalam konferensi pers, KH. Fahmi Salim menjelaskan bahwa MAI bukan organisasi kemasyarakatan maupun partai politik. MAI dibentuk sebagai wadah para pemikir dengan latar belakang yang beragam untuk memberikan gagasan dan kajian bagi bangsa.
“Ini adalah kumpulan para pemikir. Kami bukan ormas dan bukan partai politik,” kata KH. Fahmi.
Menurutnya, seluruh anggota presidium memiliki posisi yang sejajar. Kepemimpinan presidium akan dilakukan secara bergiliran setiap tahun, disertai keberadaan juru bicara serta tim ahli yang bertugas mengolah data dan melakukan analisis terhadap berbagai persoalan nasional.
Pentingnya arah nasional juga disampaikan Dr. H. Das’ad Latif. Ia menggunakan analogi permainan sepak bola untuk menggambarkan pentingnya tujuan dalam kehidupan bernegara.
Dalam sepak bola, keberadaan gawang menjadi sasaran yang membuat para pemain mengetahui arah permainan. Tanpa gawang, pemain dapat bergerak ke berbagai arah tetapi tidak memiliki tujuan akhir yang jelas.
Analogi tersebut menggambarkan bahwa negara juga membutuhkan tujuan bersama. Menurut KH. Fahmi, Indonesia tidak cukup hanya memiliki berbagai program, tetapi harus memiliki arah yang menjadi pegangan bersama.
“Bayangkan sepak bola itu tanpa gawang. Bolanya akan ke mana? Begitu juga kalau berbangsa, kalau tidak ada gawang, susah mau dibawa ke mana negara kita,” ujarnya.
Ia menegaskan, arah negara tidak boleh didasarkan pada kepentingan pribadi, perusahaan atau kelompok tertentu. Visi Indonesia harus menjadi visi kolektif seluruh bangsa.
MAI juga menempatkan Pancasila dan konstitusi sebagai landasan dalam menyampaikan gagasan. Kritik terhadap kebijakan pemerintah, menurut KH. Fahmi, tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan secara konstruktif dan tidak meninggalkan nilai-nilai Pancasila.
“Kritik boleh, tetapi tidak lepas dari nilai-nilai. Kita tetap mengedepankan Pancasila,” katanya.
Ia menambahkan, cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia serta ikut menjaga perdamaian dunia harus menjadi bagian dari arah pembangunan nasional.
Dalam Pleno I, sejumlah isu strategis turut dibahas, termasuk persoalan yang berkaitan dengan TNI dan Polri. Fokus kajian tersebut diharapkan menghasilkan analisis yang lebih mendalam sehingga rekomendasi yang disusun tidak kehilangan sasaran.
Melalui forum ini, MAI ingin mengambil peran sebagai wadah pemikiran yang memberikan kontribusi melalui kajian, analisis dan gagasan strategis untuk kepentingan bangsa.
Bagi MAI, keberagaman para tokohnya bukan menjadi penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun pemikiran bersama dengan satu tujuan, yakni mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.
