APRISINDO Jawa Timur Minta Pemerintah Permudah Akses Bahan Baku, Rany Riniwati: UMKM Industri Kulit Sedang Tertekan

KOMPASSINDO.COM, Jakarta, 5 Agustus 2026 – Ketua DPD Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) Jawa Timur, Rany Riniwati, meminta pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor industri kulit dan alas kaki. Menurutnya, pelemahan daya beli masyarakat yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir telah memberikan dampak signifikan terhadap keberlangsungan usaha para pelaku industri.

Hal tersebut disampaikan Rany Riniwati dalam wawancara dengan awak media usai menjadi pembicara pada ILF-IGT Manufacturing Forum 2026 yang digelar di Panggung Utama Hall C3, JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/8). Forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026 yang mempertemukan pemerintah, asosiasi industri, pelaku usaha, akademisi, hingga investor.

Menurut Rany, penyelenggaraan forum seperti ILF-IGT Manufacturing Forum memiliki peran strategis sebagai ruang komunikasi antara pelaku industri dengan pemerintah. Melalui kegiatan tersebut, berbagai persoalan yang dihadapi industri dapat disampaikan secara langsung sehingga solusi yang dihasilkan lebih tepat sasaran.

“Forum ini sangat positif karena menjadi tempat bertemunya pelaku usaha dengan kementerian dan berbagai lembaga pemerintah. Kami dapat menyampaikan kondisi nyata yang sedang dihadapi industri sekaligus memperoleh masukan, dukungan, dan peluang kolaborasi untuk memperkuat sektor manufaktur nasional,” ujar Rany.

Ia menjelaskan bahwa industri alas kaki dan produk kulit saat ini sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih menyebabkan daya beli masyarakat mengalami penurunan sehingga berdampak langsung terhadap penjualan produk industri.

Menurutnya, kelompok yang paling merasakan dampak tersebut adalah para pelaku UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung industri padat karya di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur.

“Market sedang menurun. Daya beli masyarakat juga berkurang. Kondisi ini sangat dirasakan oleh UMKM yang bergerak di sektor kulit dan alas kaki,” katanya.

Karena itu, APRISINDO Jawa Timur akan memfokuskan berbagai program organisasinya pada penguatan kapasitas UMKM agar mampu bertahan sekaligus meningkatkan produktivitas di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Selain peningkatan kapasitas usaha, Rany menilai persoalan bahan baku masih menjadi tantangan utama yang harus segera mendapat perhatian pemerintah. Ia berharap tersedia kebijakan yang dapat mempermudah pelaku usaha memperoleh bahan baku, baik yang diproduksi di dalam negeri maupun yang masih harus dipenuhi melalui impor.

Menurutnya, kepastian pasokan bahan baku akan sangat membantu industri dalam menjaga kelangsungan produksi, meningkatkan kualitas produk, sekaligus memperkuat daya saing di pasar nasional maupun internasional.

“Kami berharap pemerintah memberikan kemudahan dalam memperoleh bahan baku, baik dari dalam negeri maupun impor. Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor penting agar industri tetap berjalan,” ungkapnya.

Rany juga mengapresiasi dukungan sejumlah pemerintah daerah terhadap pengembangan industri kecil dan menengah. Salah satu contoh yang ia sampaikan adalah Pemerintah Kabupaten Mojokerto yang dinilai aktif membuka ruang kolaborasi dengan pelaku usaha melalui penyelenggaraan pameran, forum diskusi, hingga berbagai program pembinaan.

Menurutnya, kolaborasi yang terjalin antara pemerintah daerah dengan asosiasi industri menjadi modal penting untuk memperkuat ekosistem industri nasional, khususnya sektor padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Ia berharap pola sinergi seperti itu dapat diperluas ke berbagai daerah sehingga pelaku usaha memperoleh pendampingan yang berkelanjutan.

Lebih jauh, Rany menegaskan bahwa produk lokal Indonesia harus menjadi prioritas di pasar domestik. Menurutnya, penguatan industri nasional tidak hanya membutuhkan inovasi dari pelaku usaha, tetapi juga keberpihakan kebijakan pemerintah terhadap produk dalam negeri.

“Harapan kami sederhana, produk lokal harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dengan dukungan pemerintah, kemudahan bahan baku, dan kolaborasi yang kuat, saya optimistis industri kulit dan alas kaki Indonesia akan mampu bangkit serta semakin kompetitif,” tegasnya.

ILF-IGT Manufacturing Forum 2026 sendiri mengusung tema “Jaya di Pasar Domestik, Unggul di Pasar Global” dengan subtema “Revitalisasi Ekosistem Industri Padat Karya, Penguatan Investasi dan Optimalisasi Peluang IEU-CEPA untuk Mendorong Daya Saing Industri Lokal, UMKM/IKM dan Ekspor Nasional.”

Forum ini menjadi wadah strategis bagi pemerintah, pelaku industri, asosiasi, akademisi, dan investor untuk merumuskan langkah konkret dalam memperkuat sektor manufaktur Indonesia melalui peningkatan investasi, penguatan UMKM, inovasi industri, pengembangan sumber daya manusia, serta perluasan akses pasar ekspor.

Melalui forum tersebut diharapkan lahir berbagai rekomendasi strategis yang mampu memperkuat industri padat karya nasional, meningkatkan daya saing produk Indonesia, memperluas peluang investasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *