KOMPASSINDO.COM, Jakarta, 4 Agustus 2026 – Peluncuran buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan: Pergolakan Pemikiran Ekonomi Politik Indonesia di Auditorium Jusuf Ronodipuro, RRI Jakarta, Selasa (4/8/2026), menjadi ajang refleksi atas pemikiran salah satu ekonom terbesar Indonesia yang hingga kini masih relevan dalam menjawab tantangan pembangunan nasional.
Salah seorang peserta yang hadir, Daniel Hadi, memberikan apresiasi terhadap peluncuran buku tersebut. Dalam wawancara dengan awak media usai mengikuti acara, ia menilai bahwa pemikiran ekonomi kerakyatan yang diwariskan Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo masih sangat sesuai dengan arah pembangunan Indonesia saat ini.
Menurut Daniel Hadi berbagai gagasan yang pernah diperjuangkan Prof. Soemitro kini mulai diwujudkan melalui sejumlah program yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi nasional.
“Yang saya tangkap dari sosok Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo adalah gagasan-gagasan beliau mengenai ekonomi kerakyatan yang sangat baik. Nilai-nilai tersebut masih relevan dan saat ini mulai diterapkan melalui berbagai program yang berpihak kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia mencontohkan hadirnya program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai salah satu langkah untuk memperkuat ekonomi rakyat dari tingkat akar rumput. Menurutnya, kebijakan tersebut sejalan dengan cita-cita membangun kesejahteraan masyarakat melalui pemerataan ekonomi.
Selain itu, Daniel juga menilai bahwa semangat yang terkandung dalam buku tersebut mengingatkan kembali pentingnya mengimplementasikan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menempatkan pengelolaan sumber daya alam dan perekonomian nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
“Kita diajak kembali kepada semangat Pasal 33 UUD 1945, yaitu membangun perekonomian yang berpihak kepada rakyat sehingga Indonesia benar-benar mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dan tidak bergantung kepada bangsa lain,” katanya.
Ia menambahkan, salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut adalah memperkuat hilirisasi industri nasional agar sumber daya alam Indonesia tidak lagi diekspor dalam bentuk bahan mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Menurut Daniel, pemikiran Prof. Soemitro Djojohadikusumo mengenai kemandirian ekonomi masih sangat relevan untuk menghadapi tantangan global. Karena itu, ia berharap buku yang diluncurkan tersebut dapat dibaca oleh lebih banyak kalangan, khususnya generasi muda, agar memahami pentingnya membangun Indonesia yang mandiri, berdaulat secara ekonomi, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
“Melalui buku ini, masyarakat dapat memahami kembali semangat anti-penjajahan dalam bidang ekonomi. Indonesia harus terus mendorong hilirisasi, memperkuat ekonomi kerakyatan, serta mengelola kekayaan alam demi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia,” tutup Daniel.






