Pakar BRIN Ungkap Lahan Basah Kalimantan Jadi Benteng Alami Penahan Banjir
KOMPASSINDO.COM, Jakarta – Lahan basah di kawasan dataran banjir (floodplain) Kalimantan dinilai memiliki peran yang sangat vital dalam menjaga keseimbangan tata air. Kawasan yang selama ini kerap dianggap sebagai lahan terlantar (wasteland) itu justru menjadi benteng alami yang mampu menahan banjir sekaligus menyimpan cadangan air saat musim kemarau.
Hal tersebut disampaikan oleh Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim, Prof. Dr. Hidayat S.Kom, M.Sc. dalam Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kamis (16/7/2026).
Menurut Prof. Hidayat, ekosistem lahan basah di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur merupakan bagian dari sistem sungai yang saling terhubung dan memiliki fungsi ekologis yang tidak tergantikan.
”Selama ini lahan basah sering dianggap sebagai wasteland atau lahan yang tidak berguna. Padahal kawasan itu berfungsi sebagai tempat penyimpanan air sekaligus daerah penyangga bagi wilayah di bagian hilir,” kata Prof. Hidayat.
Pengendali Banjir di Hilir
Ia menjelaskan, salah satu contoh nyata kehebatan sistem alami ini terdapat di kawasan Mahakam Tengah yang memiliki sekitar 30 danau yang saling terhubung. Danau-danau tersebut berfungsi menampung limpahan air saat musim hujan. Alhasil, debit air yang mengalir ke wilayah hilir seperti Tenggarong dan Samarinda dapat dikendalikan dengan baik.
Prof. Hidayat mengingatkan, apabila kawasan lahan basah tersebut rusak atau dialihfungsikan, maka risiko bencana banjir di wilayah hilir akan meningkat secara signifikan.
Selain mengurangi banjir, lahan basah juga berfungsi sebagai tabungan air alami saat kemarau melanda. Air yang tersimpan di kawasan tersebut akan dilepaskan secara bertahap sehingga mampu menjaga ketersediaan air ketika debit sungai menurun.
Penyelamat Samarinda dan Tenggarong dari Banjir
Prof. Hidayat mencontohkan kawasan Mahakam Tengah yang memiliki sekitar 30 danau yang saling terhubung. Danau-danau ini menjadi penampung alami limpahan air saat musim hujan. Berkat sistem retensi alami ini, debit air yang mengalir ke wilayah hilir seperti Tenggarong dan Samarinda dapat dikendalikan dengan baik.
Ia pun memperingatkan dampak buruk jika kawasan ini sampai rusak atau dialihfungsikan.
”Apabila kawasan lahan basah tersebut rusak atau dialihfungsikan, maka risiko banjir di wilayah hilir akan meningkat secara signifikan,” tegasnya.
Cadangan Air Saat Kemarau & Peran Eceng Gondok
Tak hanya ramah saat musim hujan, lahan basah juga bertindak sebagai penyelamat saat musim kemarau. Air yang tersimpan di kawasan tersebut akan dilepaskan secara bertahap, sehingga mampu menjaga ketersediaan air ketika debit sungai mulai menurun.
”Air yang tertahan di kawasan tengah itu bisa bertahan berbulan-bulan. Ketika musim kemarau datang, air akan mengalir perlahan sehingga membantu mengurangi risiko kekeringan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Hidayat juga menyoroti pentingnya menjaga setiap komponen ekosistem perairan. Termasuk di antaranya tanaman eceng gondok yang selama ini sering dicap negatif sebagai gulma pengganggu.
”Eceng gondok memang sering dianggap mengganggu, tetapi dalam kondisi tertentu juga memiliki fungsi ekologis sebagai bagian dari sistem retensi air di kawasan hulu untuk membantu mitigasi banjir maupun kekeringan,” tambahnya.
Lahan Basah dan Masa Depan
Teknologi AI
Di akhir pemaparannya, Prof. Hidayat menekankan bahwa pengelolaan sumber daya air akan menjadi isu yang semakin strategis di masa depan.
Menariknya, kebutuhan air ini kini tidak lagi sekadar untuk konsumsi sehari-hari, melainkan juga erat kaitannya dengan perkembangan teknologi modern seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Proses komputasi AI yang masif membutuhkan infrastruktur besar yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan air bersih sebagai sistem pendingin.
”Mesin-mesin komputasi AI membutuhkan sistem pendingin yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Karena itu, menjaga sumber daya air berarti juga menjaga masa depan teknologi,” pungkasnya.
