KOMPASSINDO.COM, Tangerang – PT ZOLL Medical Indonesia, perusahaan teknologi kesehatan global yang merupakan bagian dari Asahi Kasei Group, menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan layanan kegawatdaruratan medis dalam operasi pencarian serta pertolongan (Search and Rescue/SAR) di Indonesia melalui partisipasinya pada International Search and Rescue (IISAR) 2026.
Pameran internasional yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) tersebut berlangsung di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, pada 9–12 Juli 2026. Mengusung konsep Exhibition, Forum and Challenge, IISAR 2026 menjadi ajang strategis bagi pemerintah, industri, akademisi, organisasi kemanusiaan, serta pelaku teknologi untuk memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kapasitas penanganan bencana dan penyelamatan.
Pada hari pertama penyelenggaraan, National Sales Manager PT.ZOLL Medical Indonesia Prayudi Rizki Vidian, menjelaskan kepada awak media di booth ZOLL dan PT.Anugerah Medika Mandiri yang berada di Hall 11 bahwa perusahaan menghadirkan berbagai solusi teknologi medis modern untuk mendukung penanganan korban pada berbagai kondisi darurat, mulai dari kecelakaan, bencana alam, hingga kasus henti jantung mendadak (cardiac arrest).
Menurut Prayudi, kecepatan memberikan pertolongan merupakan faktor yang paling menentukan dalam meningkatkan angka keselamatan korban.
“Pada berbagai kondisi bencana maupun keadaan darurat medis, korban sering kali mengalami henti jantung atau penurunan kondisi yang sangat cepat. Oleh karena itu, pertolongan pertama yang diberikan dalam beberapa menit pertama menjadi penentu utama keberhasilan penyelamatan,” ujarnya di boothnya di Hall 11 Nice PIK 2 Tangerang, Kamis (9/7).
Ia menjelaskan bahwa salah satu produk unggulan yang dipamerkan adalah Automated External Defibrillator (AED), perangkat kejut jantung otomatis yang dirancang agar dapat digunakan tidak hanya oleh tenaga kesehatan, tetapi juga masyarakat umum yang telah memperoleh pengenalan dasar mengenai penggunaannya.
Menurutnya, perangkat tersebut telah dilengkapi panduan suara dan instruksi visual yang memudahkan pengguna mengikuti setiap tahapan penyelamatan secara sistematis.
“Teknologi AED dari Zoll memberikan arahan langkah demi langkah kepada penolong. Dengan demikian, masyarakat awam/potensi SAR pun dapat memberikan pertolongan pertama secara optimal sebelum tenaga medis tiba di lokasi,” jelas Prayudi.
Selain membantu mengembalikan irama jantung normal melalui defibrilasi, ZOLL juga menghadirkan berbagai perangkat monitoring pasien yang mampu memantau tanda-tanda vital selama proses evakuasi.
Peralatan tersebut dilengkapi dengan kemampuan telemedicine memungkinkan petugas di lapangan dapat berkoordinasi dengan team medis ahli di pusat atau command centre, membantu mengatasi competency gap yg ada dalam memberikan informasi, pengambilan keputusan dan situation awareness bagi fasilitas rujukan dari kondisi korban sehingga tindakan medis yang cepat dan tepat dapat diberikan secara optimal pada seluruh tahapan evakuasi korban hingga mendapatkan perawatan definitif di rumah sakit.
“Monitoring kondisi pasien menjadi sangat penting. Dengan data yang akurat, tenaga medis dapat menentukan tindakan terbaik selama proses evakuasi sehingga peluang keselamatan pasien menjadi lebih tinggi,” katanya.
Prayudi menambahkan bahwa seluruh perangkat ZOLL telah memenuhi standar mutu internasional dan digunakan secara luas di berbagai negara oleh rumah sakit, layanan ambulans, organisasi penyelamatan, hingga institusi militer.
“Produk kami telah digunakan oleh berbagai organisasi militer, rumah sakit, dan layanan emergensi di berbagai belahan dunia. Semua perangkat dirancang untuk memberikan performa terbaik, clinical benefit pada situasi kritis,” ungkapnya.
Dalam pameran IISAR 2026, ZOLL turut menampilkan berbagai pilihan perangkat sesuai kebutuhan maupun kompetensi pengguna. Mulai dari AED portabel yang ringan dan mudah dibawa, monitor pasien untuk ambulans darat maupun udara, perangkat yang dapat digunakan di ruang gawat darurat, hingga sistem yang kompatibel dengan operasi penyelamatan menggunakan helikopter.
Menurut Prayudi, fleksibilitas tersebut menjadi salah satu keunggulan ZOLL karena setiap instansi memiliki kebutuhan operasional yang berbeda.
“Kami memiliki berbagai tipe produk sesuai kebutuhan pengguna. Ada yang dirancang untuk petugas lapangan awam khusus, ambulans, rumah sakit, hingga operasi udara menggunakan helikopter. Semua disesuaikan dengan karakteristik tugas masing-masing,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan masyarakat menghadapi kasus henti jantung mendadak yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.
Menurutnya, banyak korban cardiac arrest sebenarnya masih memiliki peluang hidup apabila mendapatkan tindakan CPR dan defibrilasi dalam waktu singkat sebelum terlambat.
Karena itu, keberadaan AED di ruang publik dinilai menjadi kebutuhan yang semakin penting.
“Sekarang semakin banyak kejadian henti jantung mendadak. Dengan tersedianya AED di lokasi publik, peluang korban untuk bertahan hidup akan jauh lebih besar karena pertolongan dapat diberikan dalam periode golden time sementara menunggu ambulans datang,” katanya.
Prayudi menjelaskan salah satu keunggulan perangkat AED ZOLL adalah daya tahan baterai yang sangat panjang.
“Baterainya dapat bertahan hingga lima tahun dalam kondisi siaga. Selama belum digunakan untuk kondisi darurat, pengguna tidak perlu sering mengganti baterai sehingga biaya pemeliharaan menjadi lebih efisien,” ujarnya.
Selain itu, perangkat juga melakukan pemeriksaan sistem secara otomatis sehingga selalu siap digunakan ketika terjadi keadaan darurat.
Menurut Prayudi, saat ini penggunaan AED tidak lagi terbatas di rumah sakit.
Perangkat tersebut telah banyak dipasang di sekolah, hotel, kawasan industri, pusat olahraga, gedung perkantoran, bandara, hingga berbagai fasilitas publik sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan masyarakat.
“Semakin banyak negara yang mewajibkan keberadaan AED di fasilitas umum. Langkah ini terbukti mampu menurunkan angka kematian akibat cardiac arrest karena korban mendapatkan pertolongan lebih cepat,” jelasnya.
Melalui keikutsertaan pada IISAR 2026, ZOLL berharap dapat memperluas kerja sama dengan Basarnas, pemerintah pusat dan daerah, rumah sakit, institusi pendidikan, organisasi kemanusiaan, sebagai partner dalam pengembangan teknologi penyelamatan di Indonesia.
Prayudi menilai sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk membangun sistem tanggap darurat nasional yang semakin modern, efektif, dan mampu menjangkau masyarakat hingga ke daerah-daerah.
“Kami melihat peluang kolaborasi yang sangat besar bersama Basarnas maupun berbagai instansi lainnya. Teknologi harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia agar penanganan kegawatdaruratan di Indonesia semakin baik,” tutupnya.






