KOMPASSINDO.COM, Jakarta – Memperingati Hari Bhayangkara ke-80, Anggota Da’i Kamtibmas Polda Metro Jaya sekaligus Pimpinan Majelis Taklim Basyaairul Khaeraat, Ustadz Dano JS (Jouguru/Mursyid Qalam), mengajak seluruh insan Bhayangkara untuk memaknai profesi kepolisian sebagai amanah spiritual yang tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum, tetapi juga pada pengabdian kepada Allah SWT dan pelayanan yang penuh kasih kepada masyarakat.
Dalam pesan bertajuk “Bhayangkara Langit, Seragam Fana, Amanah Kekal”, Ustadz Dano JS menegaskan bahwa seragam kepolisian merupakan simbol yang bersifat sementara, sedangkan amanah menjaga keamanan, keadilan, dan ketertiban merupakan tanggung jawab yang bernilai abadi di hadapan Allah SWT.
Menurutnya, tugas kepolisian memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar fungsi administratif atau profesi kenegaraan. Seorang polisi sejati merupakan pelayan masyarakat yang menjalankan nilai-nilai ketuhanan melalui sifat-sifat Allah SWT, di antaranya Al-Mu’min (Maha Pemberi Rasa Aman) dan Al-Hafizh (Maha Pemelihara).
“Seragam akan lapuk dimakan waktu, tetapi amanah menjaga keamanan dan keadilan adalah ibadah yang terus bernilai. Polisi yang memahami hakikat ini tidak sekadar bekerja sebagai aparatur negara, tetapi sedang menjalankan amanah langit untuk menghadirkan rasa aman bagi sesama,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa konsep tersebut sejalan dengan ajaran tasawuf yang menekankan pentingnya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) sebagai jalan menuju ma’rifatullah. Pemikiran tersebut juga banyak dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, yang menempatkan keamanan dan keadilan sebagai fondasi tegaknya kehidupan masyarakat.
Dalam pesannya, Ustadz Dano JS juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 58 yang memerintahkan agar setiap amanah disampaikan kepada yang berhak dan setiap keputusan ditegakkan dengan adil. Ayat tersebut dinilai menjadi landasan moral bagi setiap aparat penegak hukum dalam menjalankan tugas negara.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa keberhasilan kepolisian tidak hanya diukur dari tingkat kepatuhan masyarakat terhadap hukum, tetapi juga dari tumbuhnya kepercayaan dan kecintaan masyarakat kepada institusi Polri.
Mengutip hadis riwayat Imam Tirmidzi, “Para penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit,” Ustadz Dano JS menegaskan bahwa pendekatan humanis akan melahirkan hubungan yang lebih harmonis antara aparat kepolisian dan masyarakat.
Menurutnya, kepatuhan yang lahir dari rasa takut hanya bersifat sementara, sedangkan kepatuhan yang tumbuh dari kepercayaan dan kasih sayang akan menciptakan stabilitas sosial yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Sebagai ilustrasi, ia mengangkat kisah Nabi Yusuf AS dalam Surah Yusuf ayat 55 ketika meminta amanah sebagai bendahara negeri bukan demi kedudukan, melainkan karena memiliki sifat hafizh (dapat dipercaya) dan alim (berilmu). Nilai tersebut dinilai relevan sebagai teladan bagi setiap aparat negara dalam mengemban tanggung jawab publik.
Ia juga menyinggung perjalanan dakwah Sunan Kalijaga yang mengedepankan pendekatan budaya, seni, dan kasih sayang dalam menyebarkan Islam. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perubahan sosial yang kokoh lebih mudah dibangun melalui cinta dan keteladanan dibandingkan rasa takut.
Momentum Hari Bhayangkara ke-80, lanjutnya, menjadi kesempatan bagi seluruh anggota Polri untuk melakukan refleksi spiritual bahwa pengabdian sejati tidak semata-mata ditentukan oleh atribut dan kewenangan, melainkan oleh integritas, keikhlasan, serta komitmen dalam menjaga keamanan bangsa.
“Polisi mengabdi bukan karena seragam, tetapi karena amanah dari Allah SWT. Masyarakat mendukung bukan karena rasa takut, melainkan karena kepercayaan dan cinta. Ketika hukum ditegakkan dengan kasih sayang, keadilan akan menjadi rahmat bagi seluruh masyarakat,” tuturnya.
Menutup pesannya, Ustadz Dano JS berharap Hari Bhayangkara ke-80 menjadi momentum memperkuat sinergi antara Polri dan masyarakat dalam membangun Indonesia yang aman, adil, damai, serta berlandaskan nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.






