Robinson Napitupulu Sebut Gagasan Jokowi Capres Berasal dari SOKSI, Singgung Pengakuan Jokowi kepada Suhardiman

Berita838 Dilihat

KOMPASSINDO.COM, Jakarta — Wakil Ketua Umum Badan Perlindungan Lansia (BP Lansia) Pusat sekaligus politisi senior Golkar dan tokoh SOKSI, Robinson Napitupulu, menyatakan bahwa sejarah pada akhirnya akan mencatat dan menilai secara objektif asal-usul gagasan pencalonan Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia.

Menurut Robinson, gagasan awal pencalonan Jokowi sebagai calon presiden tidak dapat dilepaskan dari peran organisasi SOKSI serta pemikiran almarhum Suhardiman yang sejak awal telah memprediksi munculnya sosok pemimpin nasional dari kalangan rakyat sederhana.

“Pengadilan sejarah yang akan memutuskan bahwa gagasan Jokowi sebagai capres lahir dari rahim SOKSI. Ini bukan sekadar klaim, tetapi bagian dari perjalanan panjang pemikiran politik yang telah disampaikan sejak puluhan tahun lalu,” ujar Robinson.

Ia juga mengungkapkan bahwa pengakuan terhadap peran tersebut, menurutnya, pernah disampaikan langsung oleh Jokowi saat bertemu dengan Suhardiman. Dalam pertemuan itu, Robinson menyebut adanya penyebutan istilah “dukun politik” yang dimaknai secara positif sebagai bentuk ketekunan dalam memikirkan masa depan bangsa.

“Dalam konteks itu, istilah ‘dukun politik’ dimaknai sebagai ‘duduk dan tekun’, yaitu sikap konsisten siang dan malam dalam memikirkan arah dan nasib bangsa ke depan,” jelasnya.

Robinson menegaskan bahwa pernyataannya ini merupakan bagian dari upaya meluruskan sejarah politik nasional agar tidak terdistorsi oleh berbagai narasi yang berkembang. Ia menilai penting bagi generasi saat ini untuk memahami akar gagasan dan dinamika politik yang melatarbelakangi lahirnya kepemimpinan nasional.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap menjaga semangat persatuan dan fokus pada pembangunan nasional, terlepas dari perbedaan pandangan politik yang ada.

“Sejarah akan berbicara dengan sendirinya. Yang terpenting hari ini adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga persatuan dan terus membangun bangsa dengan semangat kebangsaan,” tutup Robinson.

Pernyataan ini disampaikan sebagai refleksi atas dinamika politik nasional sekaligus pengingat bahwa proses sejarah memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman publik terhadap kepemimpinan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *