KOMPASSINDO.COM, Jakarta – Wakil Ketua Umum BP Lansia Pusat sekaligus politisi senior Partai Golkar dan tokoh SOKSI, Robinson Napitupulu, menyampaikan pandangannya tentang makna sejati seorang negarawan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Robinson, seorang negarawan sejati harus mampu menjaga keselarasan antara pikiran, perkataan, dan tindakan dalam setiap aspek kepemimpinannya. Ia mengajak masyarakat untuk merefleksikan nilai-nilai tersebut melalui sosok Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto.
Robinson menuturkan bahwa pemikiran tersebut dapat dipelajari melalui buku berjudul “Pikiran, Ucapan dan Tindakannya” yang ditulis oleh KH Ramadhan, seorang penulis ternama yang karyanya diakui oleh Ikatan Penerbit Indonesia. Dalam buku tersebut, publik diajak menilai kesesuaian antara gagasan, ucapan, dan tindakan Soeharto selama memimpin Indonesia selama 32 tahun.
“Pak Harto membangun bangsa ini melalui perjuangan panjang yang penuh tantangan. Ia tetap gigih dan mengedepankan pendekatan persuasif demi menjaga persatuan bangsa dalam bingkai NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945,” ujar Robinson.
Ia menjelaskan bahwa sebelum era Orde Baru, Indonesia sempat mengalami ketidakstabilan politik, ekonomi, dan keamanan, baik pada masa mempertahankan kemerdekaan tahun 1945–1949 maupun dalam periode pembangunan 1950–1965. Pada masa tersebut, menurutnya, arah pembangunan dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan rakyat, dengan masih tingginya angka kemiskinan dan sulitnya pemenuhan kebutuhan pokok.
Lebih lanjut, Robinson menilai bahwa lahirnya Orde Baru pada 1966 merupakan upaya korektif terhadap kondisi sebelumnya. Dalam pandangan Soeharto, Pancasila harus ditempatkan sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa, serta alat pemersatu yang dijalankan secara murni dan konsekuen.
Sebagai bentuk implementasi nilai tersebut, Soeharto memperkenalkan gagasan Eka Prasetya Pancakarsa, yang berarti satu tekad untuk melaksanakan lima kehendak. Gagasan ini kemudian diterima oleh MPR dan dituangkan dalam TAP MPR No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), yang menjadi konsensus nasional dalam kehidupan berbangsa.
“Komitmen untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa menjadi kunci utama. Indonesia harus tetap kuat dalam bingkai NKRI, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote,” tegas Robinson.
Ia juga mengutip semangat nasionalisme yang selalu digaungkan Soeharto dalam membangun bangsa: “Jayalah bangsaku, majulah bangsaku.”
Di akhir pernyataannya, Robinson mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali meneladani nilai-nilai kepemimpinan yang mengedepankan integritas antara pikiran, ucapan, dan tindakan demi menjaga keutuhan dan kemajuan Indonesia.






