KOMPASSINDO.COM, JAKARTA, 10 April 2026 – Badan Perlindungan Lanjut Usia (BP Lansia) mengajak seluruh elemen masyarakat, baik tua maupun muda, untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai negara hukum yang berlandaskan konstitusi.
Ketua Umum BP Lansia, Karmen Siregar, menegaskan bahwa setiap warga negara yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas merupakan individu yang beruntung, namun memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan di tengah kehidupan sosial.
“Lansia harus menjadi motivator, memotivasi diri sendiri, keluarga, anak-anak, hingga lingkungan masyarakat. Ini adalah bentuk pengabdian yang bermartabat sekaligus menjadi amal baik dalam kehidupan,” ujar Karmen.
Menurutnya, peran lansia sangat penting dalam menjaga nilai-nilai etika, sopan santun, serta memperkuat keharmonisan sosial dalam kehidupan berbangsa.
Dalam menjalankan program kerja organisasi yang merujuk pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 serta Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2021, BP Lansia terus memperkuat konsolidasi internal, termasuk pembentukan kepengurusan di tingkat daerah.
Upaya ini diperkuat melalui kunjungan silaturahmi ke Ketua Dewan Pembina BP Lansia, Utojo Usman, yang kini berusia 91 tahun. Dalam pertemuan tersebut, BP Lansia melaporkan program kerja prioritas jangka pendek, yakni konsolidasi organisasi dan pembentukan kepengurusan di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota.
Utojo Usman memberikan dukungan penuh terhadap langkah tersebut dan mendorong agar program tetap berjalan meskipun menghadapi keterbatasan anggaran. Ia menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban memberikan fasilitas kepada lansia sebagaimana diamanatkan undang-undang, sehingga lansia tidak dalam posisi meminta, melainkan menjalankan haknya.
BP Lansia juga menyampaikan sikap tegas terkait dinamika politik nasional yang berkembang. Organisasi ini menolak segala bentuk upaya menggulingkan pemerintahan yang sah melalui cara-cara inkonstitusional.
BP Lansia menyatakan dukungan terhadap pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka agar dapat menyelesaikan berbagai persoalan bangsa hingga akhir masa jabatan.
“Gerakan yang mengarah pada makar bukan solusi. Justru berpotensi memperkeruh situasi, merusak persatuan, dan memicu konflik di tengah masyarakat,” ujar Karmen.
Ia juga menyoroti kondisi ekonomi yang masih menghadapi tekanan akibat situasi global, yang berdampak pada meningkatnya pengangguran, melemahnya daya beli masyarakat, serta ketidakstabilan harga kebutuhan pokok.
BP Lansia mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah bangsa. Sebaliknya, masyarakat diajak untuk memberikan masukan yang konstruktif kepada pemerintah demi perbaikan bersama.
“Jangan sampai perbedaan pandangan justru dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk kepentingan kekuasaan. Kita harus tetap menjaga persatuan dan mencari solusi terbaik bagi bangsa,” tegasnya.
Sebagai penutup, BP Lansia menyampaikan doa dan harapan agar kepemimpinan nasional diberikan kekuatan dan kebijaksanaan dalam menjalankan amanah hingga tuntas.
“Sebagai generasi yang lebih tua, kami berharap bangsa ini tetap kuat, bersatu, dan berada dalam lindungan Tuhan hingga masa depan,” pungkas Karmen.






