KOMPASSINDO.COM, JAKARTA, Selasa, 3 Maret 2026 — Di tengah derasnya arus transisi menuju energi bersih global, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Pengusaha Minyak dan Gas Bumi (PB PPMGB), Dr. Tubagus Bahrudin, SE., MM., tampil sebagai figur sentral yang membawa harapan baru bagi kebangkitan industri migas nasional. Dengan visi strategis yang komprehensif dari hulu hingga hilir, ia menegaskan pentingnya kemandirian energi sebagai fondasi utama dalam memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.

Dalam sejumlah forum nasional, Dr. Tubagus tak henti menegaskan bahwa sektor minyak dan gas bumi (migas) masih menjadi tulang punggung pembangunan. Ia menilai, meski dunia tengah bergerak menuju energi terbarukan, migas belum bisa tergantikan dalam waktu dekat.

“Selama transisi energi belum tuntas, kita tidak bisa hanya mengandalkan skenario energi bersih. Migas tetap menjadi sumber utama, dan Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pemimpin di sektor ini, bukan sekadar pemain,” ujar Dr. Tubagus dalam sebuah forum energi nasional di Jakarta, baru-baru ini.


Dari Hulu: Dorong Eksplorasi dan Dominasi Pengusaha Nasional

Di sektor hulu, Dr. Tubagus menyoroti masih minimnya keterlibatan pelaku usaha dalam negeri. Ia menegaskan pentingnya deregulasi serta percepatan perizinan eksplorasi guna mengurangi ketergantungan pada investor asing.

“Sektor hulu migas selama ini didominasi oleh investor luar negeri. Kita harus mulai mengalihkan dominasi itu ke tangan pengusaha nasional. PB PPMGB akan memimpin pembentukan konsorsium nasional agar bisa terlibat langsung dalam eksplorasi dan produksi, terutama di blok-blok yang belum tergarap optimal,” tegasnya.

Ia juga menyoroti lambannya realisasi proyek akibat tumpang tindih regulasi. Menurutnya, penyederhanaan birokrasi dan regulasi harus menjadi prioritas utama pemerintah agar iklim investasi di sektor hulu menjadi lebih kondusif dan menarik bagi investor dalam negeri.


Hilir Migas: Efisiensi Distribusi dan Modernisasi Infrastruktur

Beranjak ke sektor hilir, Dr. Tubagus menggarisbawahi pentingnya efisiensi distribusi sebagai salah satu kunci menekan harga BBM nonsubsidi. Ia menilai, masih banyak titik kebocoran dan inefisiensi dalam distribusi yang harus segera dibenahi.

“Kita akan membangun sistem distribusi migas berbasis digital yang transparan. PB PPMGB siap bekerja sama dengan BUMN maupun swasta dalam menciptakan rantai pasok yang lebih efisien dan modern,” ujarnya.

Tak hanya itu, PB PPMGB juga tengah menyusun roadmap pembangunan mini refinery atau kilang kecil di wilayah terpencil. Tujuannya, untuk mendekatkan lokasi produksi dengan konsumen, sekaligus memangkas biaya logistik dan ketergantungan terhadap kilang besar yang umumnya terpusat di Pulau Jawa.


Cetak 1.000 Pengusaha Migas Nasional

Salah satu misi utama Dr. Tubagus adalah memperkuat posisi pengusaha nasional dalam ekosistem migas yang selama ini dinilai berada dalam bayang-bayang konglomerasi asing dan oligarki energi.

“Kita menargetkan mencetak 1.000 pengusaha migas nasional dalam lima tahun ke depan. Mereka akan dibina, difasilitasi, dan dilibatkan secara aktif dalam rantai industri, mulai dari pengadaan, servis, maintenance, hingga distribusi,” paparnya.

Dalam upaya tersebut, PB PPMGB juga telah membuka berbagai pelatihan teknis dan manajerial bagi generasi muda dan lulusan teknik. Harapannya, mereka tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga menjadi pelaku usaha yang tangguh di sektor migas.


Energi Bersih dan Transisi yang Inklusif

Meski fokus pada penguatan migas, Dr. Tubagus tetap melihat pentingnya energi baru dan terbarukan (EBT). Namun, ia menekankan bahwa proses transisi energi harus dilakukan secara adil, bertahap, dan melibatkan semua pihak, termasuk pengusaha migas.

“Kita tidak bisa meniadakan migas secara instan. Transisi harus dilakukan secara realistis. PB PPMGB tengah menjajaki kemitraan dengan perusahaan energi bersih agar tercipta sinergi, bukan kompetisi yang destruktif,” jelasnya.


Pesan Tegas ke Pemerintah: Beri Ruang Pengusaha Nasional

Sebagai Ketua Umum PB PPMGB, Dr. Tubagus menyampaikan pesan penting kepada pemerintah agar memberi ruang lebih luas bagi pengusaha nasional dalam proyek-proyek migas. Ia mendorong adanya insentif fiskal dan non-fiskal agar pengusaha lokal mampu bersaing di tengah dominasi asing.

“Kebijakan harus berpihak. Jangan biarkan potensi dalam negeri kita terus dimanfaatkan oleh asing. Pemerintah harus memberi kepercayaan dan kesempatan lebih besar kepada anak bangsa,” ujarnya tegas.


Dengan semangat perubahan dan reformasi sektor energi, Dr. Tubagus Bahrudin kini menjadi simbol kebangkitan migas nasional. Di bawah kepemimpinannya, PB PPMGB diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam mewujudkan kedaulatan energi Indonesia. Bukan sekadar menjaga industri migas tetap hidup, tetapi menjadikannya sebagai kekuatan utama yang mendukung kemandirian bangsa di tengah ketidakpastian global.

(Redaksi – Kompassindo.com)

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *