KOMPASSINDO.COM, JAKARTA — Suasana haru menyelimuti upacara pemakaman Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno, yang dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Senin (2/3/2026). Upacara kenegaraan tersebut dipimpin langsung oleh Presiden RI, Prabowo Subianto, sebagai inspektur upacara.
Prosesi penghormatan terakhir berlangsung khidmat. Peti jenazah yang diselimuti Sang Merah Putih diantar menuju peristirahatan terakhir dengan iringan tembakan salvo dan penghormatan militer. Sejumlah pejabat negara, tokoh nasional, serta keluarga besar TNI turut hadir memberikan penghormatan atas dedikasi almarhum kepada bangsa dan negara.
Namun di antara para pelayat, perhatian tertuju pada kehadiran Tenaga Ahli Badan Gizi Nasional, Florencio Mario Vieira. Dalam wawancara seusai prosesi pemakaman, Mario menyampaikan kesaksian personal yang memperlihatkan sisi lain dari sosok Try Sutrisno, bukan hanya sebagai negarawan, tetapi juga sebagai mentor dan figur keluarga.
“Saya hadir bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar yang memiliki sejarah panjang dengan beliau,” ujar Mario dengan suara bergetar.
Mario menuturkan, almarhum memiliki kedekatan khusus dengan mertuanya, Brigjen TNI (Purn.) Johanes Haribowo, seorang perwira TNI-AD lulusan Akademi Militer 1965 yang pernah bertugas di berbagai daerah, termasuk Timor Timur. Menurut Mario, Try Sutrisno bukan hanya atasan dalam struktur militer, melainkan juga pembimbing yang memberi arah dan teladan kepemimpinan.
“Beliau adalah senior sekaligus mentor bagi mertua saya. Banyak nilai kedisiplinan, loyalitas, dan integritas yang diwariskan kepada generasi perwira saat itu,” ungkapnya.
Lebih jauh, Mario mengenang momen pribadi yang tak terlupakan ketika Try Sutrisno berkenan hadir dalam acara pernikahannya. Baginya, kehadiran tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan wujud perhatian tulus kepada keluarga besar para prajurit.
“Itu kenangan yang sangat membekas bagi saya dan keluarga. Beliau selalu menunjukkan perhatian, bahkan setelah tidak lagi menjabat,” katanya.
Dalam pandangan Mario, Try Sutrisno adalah representasi pemimpin yang mengedepankan pengabdian total kepada bangsa. Ia menilai almarhum sebagai sosok yang tegas, berintegritas, dan konsisten menjaga kedaulatan negara sepanjang karier militernya hingga menjabat Wakil Presiden RI periode 1993–1998.
“Beliau pejuang sejati. Nilai cinta tanah air dan pengorbanannya nyata. Generasi muda perlu belajar dari keteladanan itu,” tegas Mario.
Ia juga berharap warisan nilai kepemimpinan yang ditunjukkan Try Sutrisno dapat terus ditanamkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.
“Bangsa ini harus tetap berdaulat dan bermartabat. Semangat kepemimpinan era beliau, yang mengutamakan integritas dan pengabdian, perlu diteruskan,” tambahnya.
Kepergian Try Sutrisno pada usia 90 tahun meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kolega, serta masyarakat Indonesia. Namun melalui kesaksian seperti yang disampaikan Mario, publik diingatkan bahwa jejak pengabdian seorang pemimpin tidak hanya tercatat dalam sejarah resmi negara, tetapi juga hidup dalam ingatan dan nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi penerus.
