Dinkes Sumsel Gencar Sosialisasi Wabah Penyakit Difteri

oleh

PALEMBANG, KOMPASSINDO – Akhir-akhir ini ada kecenderungan munculnya kejadian luar biasa di beberapa negara berkembang termasuk di Indonesia kejadian luar biasa Difteri adalah ditemukannya minimal satu kasus Difteri klinis di suatu wilayah kabupaten atau kota yang ada di Indonesia salah satunya di Sumatera Selatan.

Difteri ini merupakan salah satu penyakit yang sangat menular dan disebabkan oleh kuman Corynebacterium Diptherie yang menyerang faring, laring atau tonsil. Difteri ini menimbulkan gejala tanda berupa demam (+/-) 38% C, dan munculnya pseudomembran ditenggorokan yang berwarna putih keabu – abuan dan tak mudah lepas serta mudah berdarah.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel,  Dr. Hj. Lesty Nur’ainy Mengatakan,  Bagi siapapun yang terkena penyakit ini akan mengalami sakit ketika waktu menelan, serta leher membengkak seperti leaher sapi (Bullneck) akibat pembengkakan kelenjar getah bening di leher. Selain itu terjadi pula sesak nafas disertai suara mendengkur (Stridor),”katanya saat sosialisasi bersama rekan media di ruang kerjanya. Kamis (14/12/2017)

Lesty mengungkapkan, bakteri penyebab Difteri ini mengeluarkan toxin (racun) yang mengakibatkan komplikasi berupa miokarditis (peradangan dinding jantung), kelumpuhan susunan syaraf tepi dan pusat, serta gagal ginjal. Kematian dapat terjadi karena penyumbatan saluran nafas, akibat lapisan tebal di tenggorokan.

“Untuk di Sumsel sendiri virus Difteri ini nihil dalam artian Sumatera Selatan tidak ada laporan yang terkena virus Difteri ini,”ungkapnya.

Oleh sebab itu,  Lesty Menjelaskan, Untuk itu pencegahan yang paling utama yang mesti dilakukan adalah Imunisasi dan Indonesia telah melaksanakan program imunisasi – tetmasuk imunisasi Difteri – sejak lebih 5 dasa warsa yang lalu. Vaksin untuk Difteri ini ada 3 jenis, yaitu. 1. Vaksin DPT-HB-Hib, 2. Vaksin DT dan 3. Vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda.

Imunisasi Difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi (dibawah 1 tahun) sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan. Selanjutnya diberikan imunisasi lanjutan (Booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-Hib; pada anak sekolah tingkat dasar kelas 1 diberikan 1 dosis Vaksin DT, lalu pada murid kelas 2 diberikan 1 dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas 5 diberikan 1 dosis vaksin Td. Sedangkan, pada wanita usia subur (calon pengantin dan ibu hamil) diberikan 1 dosis vaksin Td atau apabila imunisasinya tidak lengkap diberikan 2 dosis vaksin Td dengan jarak 1 bulan,”jelasnya.

“Keberhasilan pencegahan Difteri dengan cara imunisasi sangat ditentukan oleh cakupan imunisasi, yaitu minimal 95%. Selain itu, kualitas vaksin dan kualitas rantai dingin harus baik, dan cara pemberian vaksin harus tepat dan benar agar orang – orang di sekitar kita terhindar dari virus Difteri ini,” tegasnya.  (fadhel)

 

Tentang Penulis: Kompassindo Cyber Media

Gambar Gravatar
Tampang Sangar Tapi Hati Selembut Salju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *