Seorang Siswa SD Meninggal Diduga setelah Imunisasi

oleh

Jika Terbukti Lalai Maka Terkena Pidana Hukuman 5 Tahun Penjara

Palembang, Kompassindo – Meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD), Jumiarni (8) setelah diduga usai diimunisasi bakteri tetanus, hingga kini masih misterus dan dalam kajian pihak Komite Daerah Pengkajian Penanggulangan Kejadian Ikatan Pasca Imunisasi (Komda KIPI) Palembang.

Meskipun demikian, Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI) Kota palembang, Mulyadi mengatakan, apabila terbukti melakukan kelalaian dalam menjalankan tugas dari tenaga medis Puskesmas 7 Ulu Palembang, hal tersebut bisa mengakibatkan tindak pidana hukum, lantaran telah menghilangkan nyawa seseorang.

Menurutnya, sesuai prosedur yang berlaku, bahwa dalam setiap melakukan imunisasi bagi siswa, sebelumnya tenaga medis tersebut harus terlebih dahulu melakukan penyecekan kondisi tubuh pada si anak, apakah dalam keadaan sehat atau sedang dalam keadaan sakit.

“Jadi, barang siapa lalai dalam menjalankan tugas, itu artinya tidak teliti apalagi mengakibatkan hilangnya nyawa seorang diatur dalam Pasal 359 KUHP dengan ancaman 5 tahun penjara, karena ini tenaga medis diatur dalam UU khusus dan wajib dilaporkan dengan organisasi yang menaungi,” ungkap Mulyadi saat dikonfirmasi, Kamis (16/11).

Namun, ia melanjutkan, sebelum memfonis seseorang apakah telah melakukan kelalaian atau tidak dalam menjalankan tugas, akan dilakukan penelitian dan penyelidikan terlebih dahulu terkait sebab akibat siswa tersebut bisa meninggal.

“Kita berharap juga kepada pihak keluarga agar melapor ke pihak Kepolisian, artinya dalam hal ini kepolisian bisa terlibat dalam penyelidikan, selain menunggu dari kajian pihak Komda KIPI Palembang,” jelasnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, Dr Letizia menuturkan, pihaknya sudah menerima rekam medis selama Jumiarni dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Namun, ia enggan membeberkan diagnosanya karena akan dikaji terlebih dahulu.

Lanjutnya, sejauh ini pernah terdapat kasus kematian akibat imunisasi di Sumsel, terutama jenis bakteri tetanus. Dimana, pada bulan ini, pihaknya akan mengimunisasi 62 ribu siswa kelas satu dan dua SD sederajat di Palembang.

“Sudah dapat rekam medisnya, tapi saya tidak mau sebutkan sebelum dikaji tim ahli. Hasilnya nanti kita umumkan, kami juga telah melakukan imunisasi pada siswa berjumlah 6.300 orang, makanya kami bingung ada siswi yang katanya akibat diimunisasi. Isu itu belum bisa dipastikan,” katanya.

Kepala Balai POM Palembang, Setia Murni mengatakan, pihaknya juga tengah menyelidiki penyebab kematian korban dengan mengambil sampel vaksin dari Puskesmas 7 Ulu Palembang. Dari temuan awal, vaksin itu masih layak digunakan karena masa pemakaian berakhir Juni 2019.

“Saya sendiri sudah cek ke Puskesmas itu, tempat penyimpanan bagus, tidak ada masalah. Tapi kita teliti dulu sampelnya, nanti kita tunggu saja hasilnya,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Puskesmas 7 Ulu Palembang, Rustina mengatakan, saat imunisasi digelar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Hikmah Palembang beberapa hari lalu, pihak-pihak menurunkan dua orang medis. Jumlah ini cukup ideal mengingat jumlah siswa yang divaksinasi hanya 60-an orang.

“Semuanya sesuai protap. Alatnya masih steril, dipakai satu suntik untuk satu orang, habis itu dibuang di tempat khusus. Waktu ada keluhan, Jumiarni juga kami layani, kami bawa ke rumah sakit,”pungkasnya.  (fadhel)

 

Tentang Penulis: Kompassindo Cyber Media

Gambar Gravatar

Tampang Sangar Tapi Hati Selembut Salju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *