Oknum PNS Muratara Tertangkap OTT Oleh Tim Saber Pungli

oleh

PALEMBANG, KOMPASSINDO – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumatera Selatan mengamankan oknum Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Ardiansyah (45), warga Desa Megang, Kecamatan Lubul Linggau Utara II Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) yang merupakan Pegawai Negeri Sipil/Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga (PUBM) Musi Rawas Utara diduga menerima gratifikasi dalam kegiatan pengadaan dan pemasangan perluasan jaringan pipa distribusi dan sambungan rumah sistem pengelolaan air minum, di Kecamatan Rawas Ulu melalui sumber dana APBD Tahun Anggaran 2017 mencapai hampir 1,5 miliar rupiah, yakni senilai Rp. 1.470.754.000. Pengungkapan dilakukan di sebuah restoran di Kabupaten Muratara pada Selasa (14/11) sekitar pukul 18.15 WIB.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Dir Reskrimsus Polda Sumsel), Kombespol Rudi Setiawan SIK, MH saat ungkap kasus di Mapolda Sumsel pada Rabu siang (15/11) MH mengatakan beberapa barang bukti yang diamankan dalam penggerebekan tersebut antara lain uang tunai sebanyak 50 juta rupiah, 2 unit handphone yakni merek 1 phone 7 warna hitam dan 1 unit handphone merk OPPPO berwarna putih berikut sarungnya, 1 unit mobil dinas, 1 CCTV, dan tas yang dipakai untuk menyimpan uang tersebut.

Selain itu, petugas juga mengamankan barang bukti berupa uang tunai dengan beragam pecahan dari 2 ribu hingga pecahan 100 ribu rupiah, yakni: uang tunai sebanyak Rp. 1.800.000, Rp. 3.000.000, Rp. 90.000, Rp. 80.000, Rp. 60.000, Rp. 30.000, Rp. 1.500.000, Rp. 500.000, dan Rp. 1.400.000.

Dir Reskrimsus Polda Sumsel mengatakan bahwa Subdit Korupsi Polda Sumsel senantiasa melakukan penyelidikan ke semua daerah di Sumatera Selatan yang berpotensi terjadinya tindak pidana korupsi. “Kegiatan penyelidikan biasa dilakukan oleh Subdit Korupsi, pihaknya juga melibatkan Propam Polda Sumsel terkait dengan Proyek pengadaan pipa air minum di Kab. Muratara”, ujar Kombespol Rudi Setiawan.

Rudi juga menegaskan bahwa kemarin bukanlah operasi tangkap tangan (OTT), tetapi pelaku menerima hadiah dari proyek yang saat ini sedang berjalan. “Ini bukan perkara suap, ini juga bukan OTT juga, tetapi pelaku menerima hadiah”, tambahnya.

Saat ini pelaku sudah diamankan pihak kepolisisan dan telah berada di Mapolda Sumsel untuk dimintakan keterangan dan tadi siang sudah dilakukan gelar perkara awal dengan rekomendasi gelar dinaikkan ke tingkat penyidikan. Status pelaku saat ini setelah naik ke tingkat penyidikan, dan yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka.

Saat ditanya pewarta dalam ungkap kasus siang tadi siapa saja yang terlibat dalam penggerebekan kemarin sore , Rudi mengatakan sampai saat ini, pihak kepolisian baru mengamakan satu orang pegawai negeri sipil (PNS). Polda Sumsel juga akan melakukan pengembangan dan akan memeriksa saksi-saksi yang lain.

“Sementara saksi, akan melihat perkembangan kasus dilihat dari hasil pemeriksaan yang bersangkutan, siapa-siapa yang terlibat. Saat ini pihak kepolisian sedang melakukan proses pendalaman untuk mengungkap yang lain-lain. Pemeriksaan saat ini masih sedang berlangsung, nanti perkembangan kami akan senantiasa menginformasikan kepada rekan-rekan media,”tambah Rudi.

“Dari hasil penyelidikan tersebut, kita mengetahui ada bukti yang cukup bahwa telah terjadi dugaan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam pasal 11 dan pasal 12 huruf E Undang-Undang No. 31 tahun 1999, dan telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2011 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi”, tutup Rudi.

Pasal 11 UU Tipikor berbunyi: “Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya”.

Sementara itu, pasal 12 huruf E UU Tipikor berbunyi”Dipidana dengan Pidana Penjara Seumur hidup atau Pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan Paling Lama 20 (Dua puluh) Tahun dan Pidana denda paling sedikit Rp.200.000.000,- (Dua ratus juta Rupiah) dan Paling Banyak Rp.1.000.000.000,- ( Satu Milyar Rupiah ) (e) Pegawai Negeri atau Penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri,”pungkasnya.  (fL)

 

Tentang Penulis: Kompassindo Cyber Media

Gambar Gravatar

Tampang Sangar Tapi Hati Selembut Salju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *