Menhub : Sumsel Zero Konflik, Ini Sangat Luar Biasa

oleh

PALEMBANG, KOMPASSINDO – Untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober, merupakan kewajiban bagi setiap warga negara Indonesia tanpa terkecuali untuk mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia, maka dari itu puluhan perwakilan civitas akademika dari setiap perguruan tinggi yang ada di Sumsel menggelar kuliah Akbar serentak dengan tema “menolak paham radikalisme”. Kegiatan ini dilakukan di halaman rumah dinas Gubernur Griya Agung, Sabtu (28/10).

Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi saat memberikan materi kuliah umum mengatakan,  Sumsel sangat terkenal dengan Provinsi Zero konflik dari isu apapun, hal ini harus tetap dipertahankan. Dan untuk mempertahankan itu tidak mudah, karena itu kita harus mengajak semua pihak khususnya perguruan tinggi yang ada di Sumsel, untuk menjaga keragaman dengan cara tersebut sudah diterapkan di kampus-kampus yang ada di Sumsel.

“jika kita memiliki pemahaman agama dan kebangsaan yang baik pasti radikalisme tidak bisa terjadi, untuk itu cara seperti ini adalah relevan yang akan terus kita galang bersama,” kata budi saat di bincangi media usai memberi pidato.

Budi menjelaskan, Konflik yang terjadi di Negara Suriah dan Irak merupakan salah satu contoh konflik yang buruk untuk bangsa Indonesia khususnya Sumsel, sedangkan sejarah Indonesia merupakan karena jiwa nasionalisme dan persatuan bangsa yang kuat, itu sudah terbukti di Sumsel suatu daerah yang terkenal denan zero konfliknya.

“Kebijakan sudah mengarah kepada bangsa Indonesia, saya melihat keceriaan mahasiswa begitu tinggi, modal ini bisa kita gunakan dalam merawat Bhineka tunggal ika untuk menghilangkan target radikalisme,” Jelasnya.

Sementara itu Gubernur Sumsel H.Alex Noerdin mengungkapkan,  Provinsi Sumsel dari dulu sudah dikenal dengan zero konflik, “Alhamdulilah itu tidak pernah terjadi dan tidak bakal terjadi konflik antar etnis dan antar umat beragama,”.
Bahkan dirinya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat Sumsel yang telah menjaga konduktifitas konflik sehingga Sumsel dapat menjadi tuan rumah asean games 2018 , terutama kepada aparat institusi Polri dan TNI yang telah menjaga keutuhan dan keamanan masyarakat Sumsel.

“Zero konflik adalah modal utama kita dalam membangun daerah ini, tujuan akhir yaitu untuk kesejahteraan rakyat dan masyarakat Sumsel karena Sumsel bagian dari rakyat indonesia,”ungkap alex.

Selain itu juga Alex Noerdin menambahkan,  Sumsel adalah satu dari 34 Provinsi yang ada di Indonesia, tapi dapat menjadi contoh pada Provinsi-Provinsi lain karena masyarakat Sumsel selalu bersatu, bertoleran dan selalu menghargai antar sesama, mahasiswa salah satu aset yang telah melahirkan paradigma baru dalam membangun revolusi mental, generasi muda dalam menolak paham radikalisme dan terorisme, selain itu mahasiswa aset bagi kita untuk menjadi pemimpin dimasa depan.

“Kebangkitan sudah kita tularkan melalui pemahaman islam, dan di sumsel sangat mampu, marilah kita selalu mengambil langkah tegas yang mampu mengendalikan jati diri bangsa baru,”Tegas alex noerdin.

Ditempat yang sama Tumpal Simare mare selaku ketua Panitia mengatakan, Kuliah akbar perguruan tinggi dalam melawan radikalisme hari ini untuk memberi penekanan bahwa radikalisme itu sedang tumbuh, untuk melawannya seperti dengan kuliah akbar, seminar dan pertemuan yang sarana berbentuk ilmiah, sarananya seperti ini untuk mencegah paham radikalisme yang sedang tumbuh makanya dibangun gerakan-gerakan seperti ini.

“indikator yang menumbuhkan radikalisme bisa dilihat dengan intoleransi yang sangat tinggi seperti suka mengharamkan dan mengkafirkan, artinya kemajemukan dan kebangsaan itu yang harus kita pelihara,”Katanya.

Dikatakan Tumpal, Sejarah Indonesia kita Bhineka Tunggal Ika itu yang harus kita jaga agar negara ini tetap utuh dan tidak terpecah belah, Kuliah akbar ini dilaksanakan serentak diprovinsi seluruh indonesia dengan melibatkan seluruh civitas mahasiswa, untuk kegiatannya sendiri ada yang pagi dan siang, dan tema programnya sendiri sama .

“Kegiatan kuliah akbar ini diikuti seluruh civitas mahasiswa kampus, karena kampus melahirkan seluruh pemimpin, kalau pemimpinnya pas dan cinta negara berarti negara ini bebas dan terjaga untuk beberapa tahun kedepan agar tetap utuh dan tidak terpecah belah,”ujarnya.

Tumpal menambahkan, kegiatan ini diikuti hampir sekitar 45 kampus yang ada di sumsel dengan tujuan sepakat menolak radikalisme, mahasiswa diharapkan tidak terpengaruh dengan paham radikalisme dan , mengambil langkah yang tegas dan yang mampu membangun dan mempertahankan jati diri bangsa Indonesia,”pungkasnya.  (fadhel)

 

Tentang Penulis: Kompassindo Cyber Media

Gambar Gravatar
Tampang Sangar Tapi Hati Selembut Salju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *